esai ini adalah tulisan tangan saya sendiri, yang sengaja saya buat saat ingin mengikuti pertukaran pelajar. esai ini sebagai salah satu syarat untuk registrasi tahap awal. bagi para remaja terkhusus bagi mahasiswa entah jurusan apapun kalian, saya menyarankan untuk sering- sering berlatih menulis, salahsatunya yahh! menulis esai seperti saya ini...
esai entah dalam bentuk bahasa inggris, maupun bahasa indonesia sama saja. yakni terdiri dari:
- Pertama, pendahuluan yang berisi latar belakang informasi yang mengidentifikasi subyek bahasan dan pengantar tentang subyek yang akan dinilai oleh si penulis tersebut.
- Kedua, tubuh esai yang menyajikan seluruh informasi tentang subyek.
- Ketiga, adalah bagian akhir yang memberikan kesimpulan dengan menyebutkan kembali ide pokok, ringkasan dari tubuh esai, atau menambahkan beberapa observasi tentang subyek yang dinilai oleh si penulis.
sedangkan pengertian esai itu sendiri, dari berbagai sumber dapat disimpulkan bahwa esai merupakan sebuah tulisan non-fiksi yang berisi opini atau pendapat seorang penulis atas suatu hal tertentu.
contoh esai:
Peran pemuda dalam memajukan Sulawesi Barat menuju
Provinsi Unggul dan Malaqbi
Sebagai provinsi yang baru
terbentuk, Sulawesi Barat bisa dikatakan sebagai seorang anak yang baru
merangkak dan belajar berjalan sendiri. Ia masih dalam tahap pertumbuhan dan
pengembangan diri. Sekian lama menjadi bagian teritorial dari Sulawesi Selatan,
Sulawesi Barat perlu memantapkan jati dirinya sebagai daerah yang telah berdiri
sendiri dan mandiri dalam melihat adat- tradisi dan sosial- budaya
masyarakatnya yang khas, kaya dan beragam. Adat- budaya sebagai ciri khas
kebudayaan yang telah dimantapkan, selanjutnya perlu wadah untuk memperkenalkannya kemudian sebagai salah satu
kekayaan daerah yang juga sangat berpotensi untuk digunakan dalam meningkatkan
perkembangan dan jalan untuk memajukan Sulawesi Barat menuju Provinsi Unggul
dan Malaqbi. Disinilah dibutuhkan peran pemuda sebagai generasi penerus dalam
mewujudkan hal tersebut. Ada beberapa hal yang dapat dilakukan oleh para pemuda
dalam mewujudkan kemajuan daerah, khususnya melalui kebudayaan, yaitu berperan
sebagai pelaku adat- tradisi budaya secara langsung dan tidak langsung, sebagai
informan atau aktivis budaya dan menyelenggarakan event- event bertajuk
kebudayaan seara rutin.
Menjadi pelaku budaya itu sendiri
adalah peran yang paling mendasar bagi para pemuda dalam memajukan Sulawesi
Barat menuju provinsi unggul khususnya dalam bidang kebudayaan. Menjadi pelaku
budaya, bisa mereka perankan secara langsung maupun tidak langsung. Secara
langsung menjadi pelaku budaya berarti berinteraksi secara aktif dan mengalami
secara langsung adat- budaya tersebut secara kontinu sebagai bagian masyarakat
budaya. Mereka memiliki pengalaman dan pengetahuan yang terbentuk secara alami
dan menjadi identitas dirinya. Namun menjadi seorang pelaku budaya tidaklah
semata-mata hanya memiliki pengalaman, tetapi bagaimana mereka mampu menekuni
hal tersebut dan menginspirasi yang lain untuk bergerak menjadi pelaku budaya
dan melestarikannya. Sebagai contoh, seorang penenun sarung sutra dari usia
remaja hingga tuanya menekuni pekerjaan tersebut kemudian mengajarkan
pengalaman dan keahliannya itu kegenerasinya selanjutnya, atau menjadi pemuda
pesisir pantai yang sadar akan manfaat mangrove kemudian berupaya dalam
pemeliharaannya dalam jangka waktu lama hingga menjadi inspirator yang patut
menjadi teladan. Secara tidak langsung, mereka memiliki kesadaran untuk
mempelajari dan mencari tahu adat- budaya daerah sebagai bagian dari jati-
dirinya. Misalnya mencari tahu bagaimana sejarah dan latar belakang
terbentuknya kebudayaan Sulawesi Barat, mempelajari kalindaqdaq sebagai warisan
leluhur, atau belajar seni tari dan musik khas Sulawesi Barat atau lebih jauh
lagi membentuk sanggar- sanggar seni untuk memberi wadah kepada generasi muda
selanjutnya. Menjadi pelaku budaya baik secara langsung maupun tidak sangat
perlu dilakukan mengingat bahwa seorang pemuda adalah generasi penerus yang
akan memimpin Sulawesi barat dimasa depan, tentunya harus memiliki identitas
diri yang kuat. Memiliki pengetahuan dan pengalaman budaya yang mapan, bisa
dimanfaatkan untuk ikut berpartisipasi dalam setiap ajang atau event- event
budaya yang diselenggarakan baik didalam, maupun diluar daerah terutama
ditingkat internasional. Melalui pengalaman-pengalaman yang mereka punya dan
pengetahuan yang didapat inilah, mereka dengan rasa percaya diri mampu berdiri
tegak memperkenalkan Sulawesi Barat sekaligus mampu mewujudkan provinsi yang
unggul karena para pemudanya adalah para pemuda yang berbudaya.
Setelah berperan aktif dalam
interaksi budaya dan melalui pengajaran dan pengetahuan mereka tentang adat-
budaya tersebut, peran pemuda selanjutnya adalah bertindak sebagai informan. Di
abad ke-21 dewasa ini, dimana setiap informasi mampu dipertukarkan dan
diperoleh dengan sangat cepat dan begitu mudahnya sangat membantu para pemuda
dalam perannya sebagai informan. Mereka dapat memanfaatkan media komunikasi
seperti media cetak, media elektronik, terlebih sosial media yang begitu tren di era pos- modernisme
sekarang ini untuk memperkenalkan kebudayaan Sulawesi Barat dengan jangkauan
yang lebih luas lagi. salah satu hal misalnya, yang telah dilakukan oleh salah
seorang aktivis budaya Mandar, Muhammad Ridwan Alimuddin yaitu memperkenalkan
sarung sutra mandar (lipaq saqbe Mandar) melalui salah satu stasiun televisi
lokal. Memanfaatkan sosial media, seperti facebook, twitter, blog dan sosial
media lainnya. Salah satu yang telah ada misalnya, group Komunitas Penggiat
Wisata dan Budaya Mandar yang ada di Facebook, group ini tidak hanya berfungsi
sebagai wadah berbagi informasi pengetahuan, pengalaman, dan kegiatan- kegiatan
tentang kebudayaan Sulawesi Barat, tapi juga sebagai wadah menyatukan para
pemuda daerah yang tersebar di berbagai tempat di Indonesia, dan terlebih lagi
group ini bekerja secara nyata dalam menggali kebudayaan Sulawesi Barat melalui
agenda- agenda acara budaya dan trip kecil- kecilan yang secara berkala mereka
lakukan, seperti mengunjungi Bapak Abdul Muttalib, seorang budayawan Mandar untuk
berdialog dalam lingkup linguistik seputar pengetahuan tentang bahasa mandar,
melakukan trip wisata ke pesisir pantai di Desa Gonda untuk melihat
pemeliharaan terumbu karang secara langsung dari dasar laut dan melakukan
kegiatan pengembangan hutan mangrove, dan juga mengadakan acara pemutaran film dokumenter
Galung Lombok di Gedung Perpustakaan UNM Makassar, selanjuutnya meluangkan
waktu sejenak untuk berkumpul bersama mengadakan dialog budaya. Group ini pun, di
manfaatkan oleh para pemuda untuk berbagi isu- isu lainnya diluar kebudayaan, seperti
informasi sosialisasi Pem- Kab Kota Majene tentang ranperda penerangan jalan
dan isu Pulau Balabalakang. Sebagai informan adalah bagaimana para pemuda
berperan sebagai fasilitator, penyambung, pemerhati, pelestari dan tentu saja
pembawa informasi baik untuk sesama warga Sulawesi Barat, terlebih untuk orang-
orang dari budaya lain.
Hal yang ketiga adalah berperan
sebagai aktivis budaya dalam menyelenggarakan setiap event- event bertajuk
kebudayaan secara rutin. Rutin menyelenggarakan event-event seni dan budaya
tentu saja perlu kerja sama yang baik dari pihak- pihak terkait, seperti dinas
pariwisata dan budaya mandar pemerintah
daerah ataupun lembaga- lembaga masyarakat lainnya. Kerja sama ini salah
satunya bertujuan agar event yang diselenggarakan lebih formal dan yang lain
adalah agar event yang telah diselenggarakan dapat dipatenkan sebagai agenda
tahunan yang signifikan. Signifikan dalam hal ini, agar tradisi- budaya
tersebut mampu bertahan dan lestari sebagai warisan leluhur yang berharga dan
tentu saja sebagai ciri khas masyarakat Sulawesi Barat. Kemudian juga, hal ini
bertujuan untuk memberikan semacam pengingat untuk menarik minat pengunjung
bukan hanya dari dalam daerah, tapi juga luar daerah terlebih pengunnjung dari
manca-negara. Seperti yang telah dilakukan di Tana Toraja, yakni menggelar
event budaya secara besar- besaran secara rutin setiap tahun dibulan Desember
dan hal itu menjadi pengingat bagi wisatawan untuk mempersiapkan diri
mengunjungi Tana Toraja setiap tahunnya dibulan yang sama. Berbagai tradisi dan
perhelatan budaya bisa dijadikan sebagai agenda tahunan di Sulawesi Barat,
seperti tradisi mamacca (pencak silat), acara tradisi massombal, acara tradisi
maulidan; yaitu totammaq, messawe dan sayyang pattuqduq (khatam Al-Qur’an, naik
kuda dan kuda menari), pentas pakkacaping dan passayang-sayang hingga festival
budaya seperti yang baru- baru ini dilaksanakan; yaitu festival sungai mandar
2015 dan perlombaan perahu sandeq.
Secara singkat, untuk mewujudkan
Sulawesi Barat menjadi provinsi yang unggul dan malaqbi, setidaknya ada tiga
peran yang harus dilakoni oleh para pemuda kita, yaitu menjadi pelaku budaya
baik secara langsung maupun tidak, sebagai pemerhati dan pembawa informasi dan
kemudian mengagendakan event- event budaya sebagai acara tahunan secara rutin.
Untuk menjadi provinsi yang unggul, haruslah dimulai dengan menanam bibit
generasi muda yang sadar untuk mencintai budayanya sendiri. Terlebih di era
globalisasi dewasa ini yang mana budaya- budaya luar memiliki akses masuk
secara bebas dan membawa dampak asimilasi ke budaya lokal jika akar budaya masyarakat
setempat tidak kuat dan tak berdiri kokoh sejak awal. Memajukan Sulawesi Barat
menuju provinsi unggul dan malaqbi adalah siap bersaing dengan identitas diri
yang kuat dengan dunia global yang
memiliki identitas diri yang kuat pula.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar