Minggu, 11 Oktober 2015

esai kepemudaan bertemakan budaya



esai ini adalah tulisan tangan saya sendiri, yang sengaja saya buat saat ingin mengikuti pertukaran pelajar. esai ini sebagai salah satu syarat untuk registrasi tahap awal. bagi para remaja terkhusus bagi mahasiswa entah jurusan apapun kalian, saya menyarankan untuk sering- sering berlatih menulis, salahsatunya yahh! menulis esai seperti saya ini...
esai entah dalam bentuk bahasa inggris, maupun bahasa indonesia sama saja. yakni terdiri dari:

  • Pertama, pendahuluan yang berisi latar belakang informasi yang mengidentifikasi subyek bahasan dan pengantar tentang subyek yang akan dinilai oleh si penulis tersebut.
  • Kedua, tubuh esai yang menyajikan seluruh informasi tentang subyek.
  • Ketiga, adalah bagian akhir yang memberikan kesimpulan dengan menyebutkan kembali ide pokok, ringkasan dari tubuh esai, atau menambahkan beberapa observasi tentang subyek yang dinilai oleh si penulis.

 sedangkan pengertian esai itu sendiri, dari berbagai sumber dapat disimpulkan bahwa esai merupakan sebuah tulisan non-fiksi yang berisi opini atau pendapat seorang penulis atas suatu hal tertentu. 
contoh esai:
Peran pemuda  dalam memajukan Sulawesi Barat menuju Provinsi Unggul dan Malaqbi
            Sebagai provinsi yang baru terbentuk, Sulawesi Barat bisa dikatakan sebagai seorang anak yang baru merangkak dan belajar berjalan sendiri. Ia masih dalam tahap pertumbuhan dan pengembangan diri. Sekian lama menjadi bagian teritorial dari Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat perlu memantapkan jati dirinya sebagai daerah yang telah berdiri sendiri dan mandiri dalam melihat adat- tradisi dan sosial- budaya masyarakatnya yang khas, kaya dan beragam. Adat- budaya sebagai ciri khas kebudayaan yang telah dimantapkan, selanjutnya perlu wadah untuk  memperkenalkannya kemudian sebagai salah satu kekayaan daerah yang juga sangat berpotensi untuk digunakan dalam meningkatkan perkembangan dan jalan untuk memajukan Sulawesi Barat menuju Provinsi Unggul dan Malaqbi. Disinilah dibutuhkan peran pemuda sebagai generasi penerus dalam mewujudkan hal tersebut. Ada beberapa hal yang dapat dilakukan oleh para pemuda dalam mewujudkan kemajuan daerah, khususnya melalui kebudayaan, yaitu berperan sebagai pelaku adat- tradisi budaya secara langsung dan tidak langsung, sebagai informan atau aktivis budaya dan menyelenggarakan event- event bertajuk kebudayaan seara rutin.
            Menjadi pelaku budaya itu sendiri adalah peran yang paling mendasar bagi para pemuda dalam memajukan Sulawesi Barat menuju provinsi unggul khususnya dalam bidang kebudayaan. Menjadi pelaku budaya, bisa mereka perankan secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung menjadi pelaku budaya berarti berinteraksi secara aktif dan mengalami secara langsung adat- budaya tersebut secara kontinu sebagai bagian masyarakat budaya. Mereka memiliki pengalaman dan pengetahuan yang terbentuk secara alami dan menjadi identitas dirinya. Namun menjadi seorang pelaku budaya tidaklah semata-mata hanya memiliki pengalaman, tetapi bagaimana mereka mampu menekuni hal tersebut dan menginspirasi yang lain untuk bergerak menjadi pelaku budaya dan melestarikannya. Sebagai contoh, seorang penenun sarung sutra dari usia remaja hingga tuanya menekuni pekerjaan tersebut kemudian mengajarkan pengalaman dan keahliannya itu kegenerasinya selanjutnya, atau menjadi pemuda pesisir pantai yang sadar akan manfaat mangrove kemudian berupaya dalam pemeliharaannya dalam jangka waktu lama hingga menjadi inspirator yang patut menjadi teladan. Secara tidak langsung, mereka memiliki kesadaran untuk mempelajari dan mencari tahu adat- budaya daerah sebagai bagian dari jati- dirinya. Misalnya mencari tahu bagaimana sejarah dan latar belakang terbentuknya kebudayaan Sulawesi Barat, mempelajari kalindaqdaq sebagai warisan leluhur, atau belajar seni tari dan musik khas Sulawesi Barat atau lebih jauh lagi membentuk sanggar- sanggar seni untuk memberi wadah kepada generasi muda selanjutnya. Menjadi pelaku budaya baik secara langsung maupun tidak sangat perlu dilakukan mengingat bahwa seorang pemuda adalah generasi penerus yang akan memimpin Sulawesi barat dimasa depan, tentunya harus memiliki identitas diri yang kuat. Memiliki pengetahuan dan pengalaman budaya yang mapan, bisa dimanfaatkan untuk ikut berpartisipasi dalam setiap ajang atau event- event budaya yang diselenggarakan baik didalam, maupun diluar daerah terutama ditingkat internasional. Melalui pengalaman-pengalaman yang mereka punya dan pengetahuan yang didapat inilah, mereka dengan rasa percaya diri mampu berdiri tegak memperkenalkan Sulawesi Barat sekaligus mampu mewujudkan provinsi yang unggul karena para pemudanya adalah para pemuda yang berbudaya.
            Setelah berperan aktif dalam interaksi budaya dan melalui pengajaran dan pengetahuan mereka tentang adat- budaya tersebut, peran pemuda selanjutnya adalah bertindak sebagai informan. Di abad ke-21 dewasa ini, dimana setiap informasi mampu dipertukarkan dan diperoleh dengan sangat cepat dan begitu mudahnya sangat membantu para pemuda dalam perannya sebagai informan. Mereka dapat memanfaatkan media komunikasi seperti media cetak, media elektronik, terlebih sosial media  yang begitu tren di era pos- modernisme sekarang ini untuk memperkenalkan kebudayaan Sulawesi Barat dengan jangkauan yang lebih luas lagi. salah satu hal misalnya, yang telah dilakukan oleh salah seorang aktivis budaya Mandar, Muhammad Ridwan Alimuddin yaitu memperkenalkan sarung sutra mandar (lipaq saqbe Mandar) melalui salah satu stasiun televisi lokal. Memanfaatkan sosial media, seperti facebook, twitter, blog dan sosial media lainnya. Salah satu yang telah ada misalnya, group Komunitas Penggiat Wisata dan Budaya Mandar yang ada di Facebook, group ini tidak hanya berfungsi sebagai wadah berbagi informasi pengetahuan, pengalaman, dan kegiatan- kegiatan tentang kebudayaan Sulawesi Barat, tapi juga sebagai wadah menyatukan para pemuda daerah yang tersebar di berbagai tempat di Indonesia, dan terlebih lagi group ini bekerja secara nyata dalam menggali kebudayaan Sulawesi Barat melalui agenda- agenda acara budaya dan trip kecil- kecilan yang secara berkala mereka lakukan, seperti mengunjungi Bapak Abdul Muttalib, seorang budayawan Mandar untuk berdialog dalam lingkup linguistik seputar pengetahuan tentang bahasa mandar, melakukan trip wisata ke pesisir pantai di Desa Gonda untuk melihat pemeliharaan terumbu karang secara langsung dari dasar laut dan melakukan kegiatan pengembangan hutan mangrove, dan juga mengadakan acara pemutaran film dokumenter Galung Lombok di Gedung Perpustakaan UNM Makassar, selanjuutnya meluangkan waktu sejenak untuk berkumpul bersama mengadakan dialog budaya. Group ini pun, di manfaatkan oleh para pemuda untuk berbagi isu- isu lainnya diluar kebudayaan, seperti informasi sosialisasi Pem- Kab Kota Majene tentang ranperda penerangan jalan dan isu Pulau Balabalakang. Sebagai informan adalah bagaimana para pemuda berperan sebagai fasilitator, penyambung, pemerhati, pelestari dan tentu saja pembawa informasi baik untuk sesama warga Sulawesi Barat, terlebih untuk orang- orang dari budaya lain.
            Hal yang ketiga adalah berperan sebagai aktivis budaya dalam menyelenggarakan setiap event- event bertajuk kebudayaan secara rutin. Rutin menyelenggarakan event-event seni dan budaya tentu saja perlu kerja sama yang baik dari pihak- pihak terkait, seperti dinas pariwisata dan budaya mandar  pemerintah daerah ataupun lembaga- lembaga masyarakat lainnya. Kerja sama ini salah satunya bertujuan agar event yang diselenggarakan lebih formal dan yang lain adalah agar event yang telah diselenggarakan dapat dipatenkan sebagai agenda tahunan yang signifikan. Signifikan dalam hal ini, agar tradisi- budaya tersebut mampu bertahan dan lestari sebagai warisan leluhur yang berharga dan tentu saja sebagai ciri khas masyarakat Sulawesi Barat. Kemudian juga, hal ini bertujuan untuk memberikan semacam pengingat untuk menarik minat pengunjung bukan hanya dari dalam daerah, tapi juga luar daerah terlebih pengunnjung dari manca-negara. Seperti yang telah dilakukan di Tana Toraja, yakni menggelar event budaya secara besar- besaran secara rutin setiap tahun dibulan Desember dan hal itu menjadi pengingat bagi wisatawan untuk mempersiapkan diri mengunjungi Tana Toraja setiap tahunnya dibulan yang sama. Berbagai tradisi dan perhelatan budaya bisa dijadikan sebagai agenda tahunan di Sulawesi Barat, seperti tradisi mamacca (pencak silat), acara tradisi massombal, acara tradisi maulidan; yaitu totammaq, messawe dan sayyang pattuqduq (khatam Al-Qur’an, naik kuda dan kuda menari), pentas pakkacaping dan passayang-sayang hingga festival budaya seperti yang baru- baru ini dilaksanakan; yaitu festival sungai mandar 2015 dan perlombaan perahu sandeq.
            Secara singkat, untuk mewujudkan Sulawesi Barat menjadi provinsi yang unggul dan malaqbi, setidaknya ada tiga peran yang harus dilakoni oleh para pemuda kita, yaitu menjadi pelaku budaya baik secara langsung maupun tidak, sebagai pemerhati dan pembawa informasi dan kemudian mengagendakan event- event budaya sebagai acara tahunan secara rutin. Untuk menjadi provinsi yang unggul, haruslah dimulai dengan menanam bibit generasi muda yang sadar untuk mencintai budayanya sendiri. Terlebih di era globalisasi dewasa ini yang mana budaya- budaya luar memiliki akses masuk secara bebas dan membawa dampak asimilasi ke budaya lokal jika akar budaya masyarakat setempat tidak kuat dan tak berdiri kokoh sejak awal. Memajukan Sulawesi Barat menuju provinsi unggul dan malaqbi adalah siap bersaing dengan identitas diri yang kuat dengan dunia global yang  memiliki identitas diri yang kuat pula.
           
           
           
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar